Kamis itu, sepulang sekolah, Aku, Diah, Ela, Mia, dan Ulfa menyelesaikan tugas penjas dirumah Mia. Awalnya tugas itu akan diselesaikan hari Selasa, tapi karena Ela kurang enak badan dan anggota kelompok banyak yang tidak bisa datang, akhirnya kerja kelompok diundur menjadi hari Kamis.
Perjalanan dari sekolah ke rumah Mia, kira-kira 10 km, dengan waktu tempuh sekitar setengah jam menggunakan angkot. Ditambah dengan jalan kaki dari jalan raya menuju rumah Mia menghabiskan waktu sekitar 10 menit, perjalanan sepertinya akan terasa sangat lama karena siang itu matahari bersinar begitu teriknya. Tapi perkiraanku ternyata meleset, biarpun dengan berjalan kaki dibawah sinar matahari yang menyengat, kami tetap riang gembira karena perjalanan dilakukan bersama teman-teman sambil bersenda-gurau, tak terasa kami pun sampai di halaman depan rumah Mia.
Di depan rumah, Ayah dan Ibu Mia menyambut kami dengan ramah. Kami pun langsung merasa nyaman berada di rumah Mia. Setelah mengucap salam dan tentunya membuka sepatu terlebih dahulu. Kami mengikuti Mia masuk kedalam rumah, dan menuju balkon untuk kerja kelompok.
Sebelum mulai membuat tugas, kami beristirahat terlebih dahulu sambil menikmati suguhan makanan ringan. Sudah menjadi kebiasaan, kalau kerja kelompok pasti yang didahulukan makan dan mengobrol sambil berleha-leha, sementara tugas dibuat belakangan. Seperti waktu itu kami memilih untuk menyantap bakso terlebih dahulu daripada mengerjakan tugas, karena perut sedikit lapar.
“Eh beli bakso yu!” kataku
“yu!” kata Ela dan Diah hampir berbarengan.
“Aku udah makan, ngerjain tugas aja dulu” kata Ulfa menolak.
“iiih.. kalau enggak makan dulu nanti enggak akan konsen ngerjain tugasnya” Kata Diah.
Akhirnya Ulfa menurut, kami pun langsung mengikuti Mia ke lantai bawah rumahnya. Di lantai bawah, kami berpapasan dengan ibunya Mia dan menawarkan kami untuk dibuatkan mie instan. Karena tak ingin terlalu merepotkan pemilik rumah (weiiis), kami menolak tawaran itu secara halus dan segera menuju rumah penjual bakso.
Sambil menunggu Mang Bakso memanaskan air kuah bakso, kami sholat Dzuhur di Masjid dekat rumah Mia, Kebetulan Masjid itu berada tepat disebelah Rumah Mia dan rumah Mang bakso. Setelah sholat, kami kembali menuju rumah Mang dan ternyata bakso yang kami inginkan tak kunjung matang. Akhirnya kami kembali kerumah Mia.
Daripada hanya menunggu dan tak menghasilkan apa-apa kami pun mengerjakan tugas mengecat pipa. Seperti biasa setiap kerja kelompok segalanya dilakukan sambil bercanda, akhirnya cat bercecer kemana-mana mengenai lantai, tangan, kaki, untung tidak terkena baju seragam kalau sampai mengotori baju, bisa-bisa cat susah dibersihkan.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 untung aku tidak lupa hari ini ada Les. Oh iya sekarang ada ujian kenaikkan level! Hari ini aku tidak boleh telat. Aku bersama Ulfa mengerjakan tugas dengan gesit yang lain pun sama. Dan aku serasa dikejar waktu, detik demi detik bergulir dengan cepat sementara tugas belum kunjung selesai, sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 14.30. Aku langsung berpamitan dengan Mia dan kedua orangtuanya, ternyata yang lain pun mengikutiku pulang. Aku berjalan cepat menuju pangkalan ojeg dekat Rumah Mia, aku sudah hafal betul lingkungan sekitar rumah Mia karena Rumahku tak begitu jauh dari rumahnya. Di pangkalan ojeg aku sangat bingung, Diah dan Ela memaksa untuk kerumahku sementara aku sedang dikejar waktu karena takut datang terlambat ke tempat les. Mereka terus memaksa dan akhirnya bejalan mendahuluiku. Aku tak tega untuk meninggalkan mereka apalagi mereka baru mengenal lingkungan sekitar rumahku. Akhirnya aku terpaksa mengikuti mereka dari belakang sambil dihantui rasa cemas dan kesal. Setelah melewati rumahku mereka tampak puas karena keinginannya terpenuhi, sementara aku semakin cemas karena waktu sudah menunjukkan pukul 14.45, perjalanan dari rumah ke tempat les sekitar setengah jam sedangkan les dimulai pukul 15.00, rasanya tidak mungkin aku tidak terlambat. Hatiku semakin gelisah.
Di jalan aku berpapasan dengan tukang ojeg, aku langsung berpamitan pada Diah, Ela, dan Ulfa.Lalu menaiki jok belakang motor. Mereka tampaknya tak berkeberatan aku pergi duluan. Mereka mengerti jika aku tidak menggunakan ojeg pasti akan telat sampai tujuan. Untunglah mereka bisa memahami.
Diangkot aku makin kesal karena tukang angkot berkali-kali berhenti untuk menunggu penumpang. Sementara waktu terus berjalan mengantarkanku pada keterlambatan, aku tak berani melihat jam karena itu akan menambah rasa cemasku. Akhirnya aku hanya bersabar menahan rasa cemas dan kesal. Dan akhirnya tepat jam 15.30 aku berada di tempat les. Aku segera memasuki kelas dan pasrah apabila ujian sudah dimulai, itu artinya aku harus mengerjakan soal dengan waktu lebih singkat, ditemani rasa capai dan napas terengah-engah karena tadi aku berlari menuju pintu kelas.
Aku pun membuka pintu kelas, disana semua temanku sudah datang dan mungkin hanya aku yang telat. Tapi ternyata ujian kenaikkan level belum dimulai. Ibu guru pengawas baru memberikan soal ujian saat aku datang. Untunglah, walaupun aku terlambat sampai tujuan, namun aku tidak terlambat mengerjakan soal. Syukurlah…
Aku beruntung karena masih bisa berkonsentrasi mengerjakan soal, dalam kondisi seperti itu. Kejadian ini memberikanku pengalaman yang tak mudah untuk dilupakan. Salah satu kenang-kenangan yang aku dapat di kelas Sembilan bersama teman-teman.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar